Monday, 31 August 2015

Kisah Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan seorang yang sombong

Kisah Syeikh Abd al-Qadir Jilani  dan seorang yang sombong

Abdul Shamad ibn Humam adalah salah seorang terkaya di Bagdad. Seorang yang angkuh, membangga-banggakan harta. Dia merasa telah memiliki dunia ini dan mempekerjakan banyak orang untuk kepentingannya. Dia mengira dapat mengontrol mereka dan memperlakukan mereka sekehendak hatinya. Sebagai seorang materialis, dia sangat membenci Syeikh Abd al-Qadir Jilani dan menyangkal kehebatan-kehebatan magisnya. Dia menceritakan:
Seperti kamu ketahui aku tak pernah suka pada Syeikh. Sekalipun aku memiliki banyak harta dan kehendak apa saja, au tak pernah puas, bahagia atau perasaan tenang.
Pada hari jum'at, ketika aku melewati madrasahnya, aku mendengar suara adzan. Dalam hati aku berkata " aku ingin melihat lebih dekat orang ini yang telah mengesankan banyak orang melalui apa yang disebut kehebatan magis. Aku akan pergi dan salat jumat di masjidnya.
Masjid itu sudah penuh sesak. Aku mendorong diri maju ke depan dalam keramaian jamaah dan menemukan tempat yang tepat di kaki mimbar. Syeikh mulai menyampaikan khutbahnya dan setiap kalimatnya membuatku marah.
Tiba-tiba aku sangat risau dan ingin sekali keluar (untuk menyelamatkan diri dari situasi ini). Tidak ada jalan yang tersisi untuk keluar masjid. Aku sangat galau karena dipermalukan sedemian rupa. Ketika perutku tak enak karena menahan kentut dan mules kebencianku pada Syeikh makin menjadi-jadi.
Tak lama kemudian, dengan tenang dia turun dari mimbar dan berdiri di depanku sambil melanjutkan pembicaraannya, dia menutupiku dengan pakaian jubahnya. Tiba-tiba saja aku mendapti diri berada di lembah hijau yang sangat indah dimana aliran air bersih mengalir. Disekitar lembah itu tak ada seorangpun. Aku buang air besar dan membersihkannya serta berwudhu di air lembah itu. Saat aku memutuskan mendirikan shalat, aku mendapati diriku sudah berada dibawah jubah Syeikh, dia mengangkatnya dariku dan kembali naik ke mimbar.
Aku sangat terkejut, bukan hanya karena perutku sudah terasa enak, tetapi juga karena hatiku menjadi tenang. Semua kebencian, marah, dan perasaan negatif lenyap dari pikiranku.
Setelah salat aku meninggalkan masjid dan pulang ke ruamh. Di jalan, aku tersadar bahwa aku kehilangan kunci simpanan uang. Aku kembali ke masjid dan mencari kunci itu kemana-mana, tetapi aku tak menemukannya. Dengan susah payah aku menyuruh tukan pembuat kunci untuk membuka peti bersiku itu.
Pada hari berikutnya aku bepergian untuk urusan bisnis. Tiga hari dari Bagdad kami melewati lembah yang sangat indah. Lembah itu seakan-akan menarik kami ke sisi aliran air yang indah. Segera aku tersadar bahwa ini adalah tempat yang pernah aku gunakan untuk mandi dan berwudhu. Aku membersihkan badan lagi ditempat yang sama. Disana aku temukan kunci peti besiku yang hilang!. Ketika kembali ke Bagdad aku menjadi pengikut Syeikh.


Ditulis oleh: Admin Pembahasan Contoh soal Updated at : Monday, August 31, 2015